Blog

Fakta Cerdas

Kenali Sebab Munculnya Quarter Life Crisis

IMG-20210416-WA0025

Kenali Sebab Munculnya Quarter Life Crisis

Spread the love
Sumber Gambar: https://unsplash.com/

“Recently, I’ve been overthinking about a lot of things. About my job, my family, my dreams, and my life. I’m getting older, but how far have I progressed? Maybe this is what people call a quarter life crisis” @iwanhalianto

Halo peneliti muda!

Apakah mungkin kamu pernah berpikir hal yang sama? Berpikir setelah lulus akan melakukan apa. Apakah akan melanjutkan sekolah lagi? Namun jika lanjut, uang darimana. Apakah akan langsung bekerja? Namun jika bekerja, akankah diterima. Tapi bagaimana jika ternyata orang tua justru mendorong untuk menikah? Akan lebih pusing mungkin ya nantinya. Seluruh pemikiran ini mirip dengan istilah overthinking yang akhir-akhir ini juga ramai diperbincangkan masyarakat, terutama para generasi muda.

Overthinking menjadikan individu terlalu banyak berpikir, terlalu banyak merasa cemas, bahkan terlalu banyak merasa takut. Pemikiran ini kadang begitu menghantui, hingga akhirnya terbawa sampai tidur. Saya itu maunya apa? Saya itu inginnya apa? and BOOM!! Crisis… Is that okay? Yup it’s okay, it’s really okay to be not okay. Nggakpapa kok kita terpikirkan tentang banyak hal, nggakpapa kok kita ngerasa stress dan overwhelmed.  Kenapa nggakpapa? Karena semua itu adalah hal yang normal, hal yang sudah sewajarnya terjadi.

Quarter Life Crisis merupakan sebuah tahap krisis emosional yang terjadi di rentang usia 18-29 tahun (Agustin, 2012). Masa ini memberikan kesempatan bagi tiap individu untuk dapat berpikir, berinovasi, bertahan, bekerja keras, dan berkembang. Area-area permasalahan dari Quarter-Life Crisis sangat beragam (Nash & Murray, 2010). Mulai dari tantangan akademis; tingginya mimpi dan harapan; kehidupan pekerjaan dan karir; masalah teman, percintaan, dan keluarga; keyakinan dan spiritualitas; bahkan krisis identitas diri.

Terdapat beberapa faktor yang memicu datangnya fase ini. Pertama, paradox of choice atau terlalu banyak pilihan hingga kelelahan. Sederhananya, kini individu dihadapkan dengan berbagai macam pilihan setelah lulus, seperti melanjutkan pendidikan, bekerja, menikah, mengabdi, atau meneliti. Sedangkan dulu hanya ada dua pilihan, menikah atau bekerja. Maka tak heran, terlalu banyak pilihan terkadang justru semakin pusing. Faktor kedua, yaitu ideal self atau diri yang ideal. Pemikiran untuk menjadi sosok diri yang ideal memang baik, namun jika tidak memperhatikan kapasitas dan kondisi pribadi, justru dapat berakibat fatal. Misalnya kepercayaan diri menurun atau kecenderungan menyalahkan diri sendiri, yang akhirnya berdampak pada munculnya stress.

Faktor ketiga, yaitu social expectation atau ekspektasi sosial yang berasal dari orang tua, kerabat, pasangan, atau uniknya lagi dapat berasal dari tetangga. Terkadang kekuatan ekspektasi sosial lebih besar dari ekspektasi pribadi, sehingga individu merasa bertanggung jawab untuk lebih memenuhi ekspektasi sosial tersebut, karena takut mngecewakan orang-orang yang ada di dalamnya. Faktor terakhir yaitu too much sosial media. Segala yang berlebihan tentu tidak baik, apalagi sosial media yang salah satu dampaknya, individu akan terus melakukan perbandingan sosial, sehingga cenderung berfokus pada kehebatan orang lain, daripada berfokus pada bagaimana menjadikan diri sendiri lebih hebat.

Then, how to deal with it? Take a piece of paper and pay attention to this. Kenali diri sendiri, buat lah catatan tentang kekuatan dan kelemahan; moodbreaker dan moodboster; hal yang ditakutkan dan hal yang memicu keberanian; serta cara-cara mengembalikan energi diri sendiri. Mengenal diri sendiri adalah kunci utama agar survive melalui tahap Quarter Life Crisis dan melalui tahap-tahap kehidupan selanjutnya. Karena dengan ini, individu akan tahu bagaimana kondisi dirinya dan bagaimana harus mengelolanya. Prosesnya memang tidak mudah, bahkan kadang memakan waktu yang sangat lama, tapi nikmatilah proses mengenali diri sendiri.

Selain itu, susunlah rencana hidup untuk 5 tahun kedepan. Apa yang diinginkan, entah itu berkaitan dengan karir, cinta, keluarga, hobi, mimpi, atau kontribusi; bagaimana dampak positif dan negatif dari impian tersebut; apa saja tantangan yang akan dihadapi untuk merahinya; serta apa saja yang harus dipersiapkan dan dilakukan untuk dapat meraihnya, entah itu langkah, konsep, secara teknis maupun non teknis. Perencanaan matang ini dapat memudahkan individu untuk memetakan dan menjalani masa-masa kehidupan Quarter Life Crisis, sehingga meminimalisir kemungkinan kondisi terombang-ambing.

And, that’s it. Kenyatannya mungkin lebih sulit dari apa yang tertulis disini. Prosesnya memang tidak mudah, pasti akan banyak kerikil atau batu-batu besar di depan. Tapi percayalah, seluruh proses ini akan menjadikan diri kita bertumbuh dan berkembang.

“Seperti kata pepatah, pelaut yang hebat tidak terlahir dari laut yang tenang. Begitu juga kita, terlahir untuk terus mengambil pelajaran dari setiap masalah yang dihadapi, sehingga kelak dapat menjadikan diri yang jauh lebih hebat dari diri kita di masa lalu”

Referensi

Agustin, Inayah. (2012). Terapi dengan pendekatan solution-focused pada individu yang mengalami quarter life crisis. (Tesis dipublikasikan). Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Nash, R. J., & Murray, M. C. (2010). Helping College Students Find Purpose: The Campus Guide to Meaning-Making. San Francisco: Jossey Bass @Iwanhalianto. (2020). https://www.instagram.com/p/CIe8V9OhP0S/


Penulis

Eva Rahman atau akrab disapa Eva, merupakan kepala mentor bidang sosial humaniora di Science Hunter Indonesia. Ia senang berbagi pada acara formal maupun non-formal, mengenai topik penelitian maupun topik psikologis sehari-hari. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan profesi psikologi bidang klinis di Yogyakarta. Kenali Eva lebih jauh melalui akun Linkedin-nya pada tautan linkedin.com/in/eva-rahman-878273135/.

Wishlist 0
Open wishlist page Continue shopping